Skip to main content

New Purpose, New Life

resolusiku yang tertunda ditahun kemarin pokoknya harus aku lakukan di tahun ini!”


“tahun kemarin tujuan-tujuan yang aku list sebagian besar sudah terwujud, tahun ini tujuanku apa ya?”

Kalimat-kalimat diatas pasti sering teman-teman lontarkan baik didalam hati maupun secara langsung setiap pergantian tahun. Memasuki tahun 2019 akan ada banyak resolusi dan tujuan hidup yang digumulkan. Akupun punya resolusi baru, resolusi lama di tahun kemarin, tujuan-tujuan baru didalam hidup; yang harus aku lakukan ditahun ini. Walaupun sekarang sudah bulan Februari, ternyata untuk melakukan dan mewujudkan resolusi dan tujuan itu susah-susah gampang.


Menurut Rick Warren dalam bukunya berjudul Purpose Driven Life; “Pencarian tujuan hidup telah membingungkan banyak orang selama ribuan tahun”, Banyak orang merasa sudah menemukan tujuan hidupnya jika mereka sukses dalam segala hal, akan tetapi setelah mereka mencapai sukses dalam hal-hal tersebut, anehnya mereka tetap merasa hampa. Ada sesuatu yang belum lengkap meskipun kesuksesan telah dicapai. Ada juga banyak yang tidak tahu dan bingung mengenai bagaimana cara menemukan tujuan hidupnya. Apakah tujuan hidup yang telah kamu capai tetap membuatmu merasa hampa?
Atau kamu masih bingung terhadap tujuan hidupmu?

Yuk mari kita buka dan baca Filipi 3:1-14 sebagai acuan bacaan kita hari ini. Perikop ini berbicara tentang Paulus yang telah mengetahui kebenaran akan jalan keselamatan (bisa dibaca pada postingan He Is The Way) dan mempunyai tujuan hidup yang baru.

Ayat ke 1-2, Paulus mengingatkan jemaat Filipi bahwa ada orang-orang tertentu yang mau membelokkan jemaat Filipi dari kebenaran Injil. Penyesat-penyesat itu digambarkan oleh Paulus sebagai “anjing-anjing”. “Anjing” difilosofikan secara metafora sebagai “impure mind” atau pikiran yang kotor dan tidak murni, yang melekat pada karakter penyesat. Perlu diingat bahwa yang berbahaya bukanlah penyesat yang sudah jelas terlihat, tetapi penyesat yang tidak terlihat seumpama serigala berbulu domba. Satu-satunya cara untuk menghindari penyesatan yaitu memahami Firman Tuhan. Sama seperti prinsip kita sebagai seorang hamba, maka apapun yang akan kita lakukan harus bertanya kepada tuannya terlebih dahulu, memahami, dan melakukan perintah tuannya dimana Tuhan sebagai tuan kita. “Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mazmur 1:2)

Ayat ke 3, Paulus menjelaskan pengertian tentang sunat yang benar. ”Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan  secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan Allah.” (Roma 2:28-29). Yahudi pada perjanjian lama dilambangkan sebagai kerajaan Allah. Di  perjanjian baru, kerajaanNya adalah kita yang percaya kepada Allah. Secara rohani, tempat yang paling busuk dan penuh dengan sampah adalah hati kita. Sunat didalam hati secara rohani perlu dilakukan agar hati anda tidak lagi memikirkan dosa dan hal-hal yang jahat dan memberikan hati anda sepenuhnya untuk Tuhan. Menyunatkan hati dapat dilakukan lewat beberapa proses yaitu percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, bertobat, hidup dipenuhi dengan Roh Kudus, dan memberitakan Injil kepada orang-orang disekitar kita. Memberitakan Injil merupakan proses yang penting dari menyunatkan hati karena kita sebagai orang percaya mempunyai hutang yang harus dibayar, hutang tersebut yaitu hutang kebaikan dan kemurahan dari Tuhan (anugrah umum), hutang pengorbanan Kristus (anugrah khusus), dan hutang Amanat Agung, yang ketiganya harus dibayar dengan memberitakan Injil. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20) “Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu yang diam di Roma” (Roma 1:14-15) Secara harfiah, Paulus sebenarnya tidak mempunyai hutang kepada orang Yunani ataupun bukan Yunani (Barbarian), terpelajar maupun tidak terpelajar. Namun Paulus sadar sebagai orang percaya, dia mempunyai hutang orang percaya yaitu memberitakan Injil. Bagaimana jika kita tidak membayar hutang kita untuk memberitakan Injil? “Karena jika aku memberitakan Injil, aku  tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Korintus 9:16).

Sebelum kita memberitakan Injil, ada baiknya kita terlebih dahulu menjadi teladan yang baik bagi orang sekitar kita dan meng-upgrade hidup menjadi lebih baik agar hidup kita tidak menjadi batu sandungan dalam pelayanan memberitakan Injil. “Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu.” (Kisah Para Rasul 7:51) Selain menyunatkan hati, kita juga harus menyunatkan telinga karena iman dan kepercayaan timbul dari pendengaran  sehingga kita sebagai orang percaya juga seharusnya menjaga pendengaran sehingga tidak menjadi sesat karena mendengar hal yang tidak benar.

Ayat ke 4-6, disebutkan 7 hal yang merupakan kebanggaan orang Yahudi yang dimiliki Paulus yaitu “disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” Seringkali seseorang menjadikan sesuatu yang paling dihargai atau sesuatu yang dinilai sangat tinggi sebagai tujuan hidupnya. Begitu pula dengan Paulus yang menjadikan 7 hal tersebut sebagai tujuan hidupnya yang lama. Hidup lama Paulus mengejar hal-hal yang fana, dimana hal-hal fana itu hanya membawa kesenangan sementara (gelar,kekayaan,kesuksesan,dll). Dalam perjanjian lama, kefanaan digambarkan sebagai Kerajaan Babel yaitu semua pusat dunia ini (ekonomi,politik).

Ayat ke 7-8, merupakan titik balik hidup Paulus saat dia mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan mengenalnya lebih dalam lagi. Tujuan hidup Paulus yang lama dianggapnya seperti sampah dan yang dulu dia banggakan semuanya tidak berarti lagi karena dia telah menemukan tujuan hidupnya yang baru. Ayat ke 9-14, menunjukkan tujuan hidupnya yang baru yaitu mengejar hal-hal yang kekal, yaitu hidup didalam Kristus dan membangun kerajaan surgawi di dunia ini. Paulus memulainya dengan pengenalan akan Kristus. Pengenalan  yang dimaksud bukan hanya dengan pengetahuan, melainkan lewat persekutuan dan mengalamiNya secara personal, sehingga akan ada pengenalan yang relasional dan lebih dalam. Dijelaskan juga bahwa di dalam Kristus juga akan ada kasih yang tidak pernah padam, yang tidak perlu kita upayakan melainkan telah disediakanNya. Dari Paulus kita disadarkan bahwa apa yang selama ini dicari di dunia dan dibanggakan oleh banyak orang , semuanya menjadi tidak berarti karena adanya pengenalan akan Kristus.

Dari Paulus lah seharusnya kita belajar untuk memahami tujuan hidup kita karena dari situlah kita bisa menentukan bagaimana memaknai hidup yang seturut dengan kehendak Tuhan. Pertanyaannya adalah, hal apa yang paling kamu hargai dalam hidup ini (gelar, penghormatan manusia, dll) yang karenanya kamu mengusahakan dengan memberi segenap waktu dan tenaga untuk meraihnya? Apakah tujuan hidup yang kamu gapai saat ini masih menuju pada kefanaan? Apakah kamu mau belajar untuk menjadikan Kristus sebagai tujuan hidupmu yang sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan itu kiranya boleh menjadi renungan buat aku dan kamu yang sedang membaca.
Karena jujur saja, terkadang saya juga sadar kalau saya sedang mengejar hal yang fana. Namun setiap waktu saya mencoba untuk mempunyai tujuan hidup seperti Paulus dan menjadikan Kristus sebagai pusat hidup saya sehingga tujuan hidup saya bukanlah kepada hal yang fana tetapi pada hal yang kekal. Amen.

Keep reading, keep blessing! God bless you πŸ™



Comments

Popular posts from this blog

Hello!

Shalom and welcome to our new blog!πŸ™‹ YES it’s “our” because the blog is managed by two person in it. Guess who we are? Taraaa~ Anita is on the left and Riyan on the right. We are met by God and decide to care and love one another πŸ˜„ This blog was made just because the idea that suddenly crossed in our mind then Riyan released this blog. We’ll write and share things that may bless many people out there especially, dear readers. And we also hope that through this blog, we –me and you who read this blog– can come into a deeper understanding of God’s love for us! That’s all for today. Keep reading, keep blessing! God bless youπŸ™

God's not Dead

Syalom teman-teman πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡ Saya disini ingin sedikit bercerita tentang pengalaman saya menonton film God’s not dead 1. Mungkin sebagian teman-teman sudah ada yang pernah menonton film ini ya kan? Jadi saya hanya menyampaikan pengalaman saya setelah menonton film ini. Film ini salah satu dari sekian banyak film rohani yang saya tonton. Dan film ini yang menguatkan saya dimasa sekarang ini sebagai seorang Kristen. Mudah-mudahan kedepannya teman-teman yang baca juga bisa dikuatkan. Amin.... Cuss langsung aja kita baca reviewnyaπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡ Dalam film ini menceritakan bagaimana seorang mahasiswa kristen bernama Josh Wheaton yang melewati berbagai pencobaan untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Pencobaan itu dimulai saat mahasiswa tersebut masuk ke kelas filsafat dimana dalam kelas itu professor Radisson yang mengajar adalah seorang yang atheis. Ketika kelas dimulai professor tersebut membuat kesepakatan yaitu semua mahasiswa harus menulis dikertas bahwa Tuhan itu tidak ada dan di tan...

God's Plan

Shalom readers! Lama banget udah ga posting sesuatu di blog ini karena aku lagi sibuk-sibuknya ngerjain TA supaya bisa lulus semester ini hihi. Puji Tuhan aku dimampukan dan salah satu wishlist -ku lulus disemester 8 bisa terwujud. Kuliah selama 4 tahun apalagi dibidang Teknik Kimia bagiku bukan hal yang mudah. Banyak masalah yang harus aku gumulkan selama kuliah dan kali ini aku mau sharing bagaimana tangan Tuhan menolong begitu dahsyat. Dari kecil aku sudah dididik untuk jadi anak yang mengerti pentingnya belajar dan pendidikan. Aku sangat berterimakasih kepada orangtuaku yang sudah menanamkan prinsip itu dan aku pasti akan meneruskannya ke anakku kelak. Mencari sekolah dari SD-SMA pun bukan hal yang sulit karena nilaiku yang memenuhi standar. Tapi semuanya berbeda waktu aku mulai mendaftar perkuliahan. Dari jalur SNMPTN sampai SBMPTN gagal, mencoba beberapa jalur mandiri pun hasilnya sama. Waktu itu aku tertarik dan selalu memilih Teknik Lingkungan, tapi gagal. Singkat cerita a...